- K II -
BAB 2
Sosok pria yang menyentuh Hati.
Lelahnya hari ini
aku bekerja, sampai malam yang sudah seperti nocturnal aku rasanya. Hidup
seperti kupu-kupu malam, yang berkeliaran di malam hari seperti ini.
Jalanan yang sepi
ini ku nikmati di dalam mobilku ini. Tak ada yang menghalangiku di jalanan.
Bandung oh Bandung indahnya kota ini, menyenangkan hati ini dengan suasananya
tak seperti di kotaku Jakarta, yang kadangkala aku pulang kerja selalu di
hampiri dengan untaian mobil yang sudah seperti parkiran yang di pindahkan ke
jalan raya.
Ku lajukan mobil ini
dengan laju yang rendah, karena rasanya ingin aku berlama-lama dijalanan.
Lagian dirumahpun aku sendirian, belum ada yang menemani di kesendirianku saat
ini. Entah kapan datangnya hari dimana lelaki meminangku. Hahaa udah ga bener
nih kepalaku mikir yang aneh-aneh.
Aku terus menelusuri
jalanan kota kembang ini, sampainya ku di lampu merah yang memberhentikan
kendaraan ku ini.
Aku menoleh ke kiri,
aku melihat ada dua orang sedang berdiam diri di pinggir trotoar itu. Entah apa
yang sedang di bicarakan di malam-malam gini. Yang jelas aku merasa penasaran
dengan mereka, karena di larut malam seperti ini masih saja ada yang bangun.
Seorang nenek yang
bajunya lusuh dengan seorang laki-laki yang kelihatannya masih muda. Aku terus
fokus pada dua orang itu, dan ternyata..
Laki-laki ini
memberikan bungkusan yang aku lihat sepertinya laki-laki itu memberikan makanan
pada nenek itu. Aku pun mencari tempat parkir, dipinggir jalan ku hentikan
mobilku kan ku lihat di spion mobilku gerak-gerik kedua orang itu. Tak lama
dari itu laki-laki itupun pergi meninggalkan nenek tua itu. Tetapi sepertinya
wajah dari laki-laki itu familiar di mataku, otakku tidak yakin aku mengenal ia
tapi hati ini kuat meyakinkan bahwa aku kenal ia. Akupun masih penasaran.
Jauh ia sudah
berjalan, akupun turun dari mobilku dan menghampiri nenek tua itu.
“malem nenek” suara
lembutku menyapa nenek itu
Akupun mulai membuka
pembicaraan.
“nenek ga pulang
malem-malem kaya gini masih diluar?”
Nenek itu tidak
menjawab apa-apa, ia menjawab dengan mimic mukanya dengan menunjukan wajah
murung.
“oh yaudah nenek
maaf yah (tanganku mengusap bahu nenek itu)”
Aku pun menanyakan
sosok laki-laki itu kepada nenek itu siapa tau nenek kenal atau mungkin
anaknya, atau entahlah aku bingung. Tetapi rasa penasaran yang ada dihatiku ini
menggebu-gebu rasanya ingin menanyakan sosok laki-laki itu.
“eh nenek kenalin
aku Fina nenek, kebetulan aku melihat ini dan khawatir dengan seorang nenek
dijalanan sendirian” akupun menunjukan rasa simpati ku pada nenek itu
Nenek itupun
menjawab “nenek gapapa, nenek udah sering seperti ini” lirih suara nenek itu
Akupun sakit dengan
mendengar nenek itu berbicara seperti itu, aku ingin rasanya mengajak nenek
pulang untuk tinggal di rumahku tetapi aku takut nenek merasa sakit hati jika
aku ajak untuk tinggal bersamaku, sehingga aku mengambil keputusan untuk tidak
membahasnya.
“eh nek, yang tadi
laki-laki itu siapa ya nek? Sebelumnya maaf ya nek lancang” tanyaku karena
penasaran
Nenek itupun terdiam
seperti mengingat-ngingat sesuatu. Terdiam sejenak, kita semua terdiam, aku
menunggu ada sepatah kata yang terlontar dari bibir nenek itu.
Nenek itupun angkat
bicara, “enak siapa neng, laki-laki itu, yang jelas dia udah ngasih nenek
makanan, katanya barusan lewat kesini dan kebetulan bawa makanan, jadi
makanannya dia kasih ke nenek” sambil menunjukan wajah senang
Akupun hanya
tersenyum ketika nenek berbicara seperti itu. Akupun terpukau dengan tindakan
laki-laki itu yang dengan larut malam ini masih ada hati untuk melihat sisi
lain dari kehidupan manusia di dunia ini. Ingin rasanya aku mengenal laki-laki
itu. Entah mengapa hati ini terus berkata-kata dan semakin penasaran dengan
orang itu. Akupun berterima kasih kepada nenek itu yang mau jawab pertanyaan ku
dan akupun pamit pulang dan mengatakan hati-hati kepada nenek itu, nenek itu
membalasnya dengan senyuman.
Ketika aku akan
menyebrang jalan menghampiri mobil, aku baru memulai satu langkah. Nenek itu
memanggilku.
“Neng (suara
kerasnya nenek), kalo ga salah nama laki-laki itu Lam, tapi nenek lupa dengan
kelanjutannya” tambahnya.
Akupun hanya
menganggukan kepala dan tersenyum kepada nenek itu sambil mengucapkan terima
kasih. Akupun berjalan menghampiri mobil dan melanjutkan perjalananku untuk
sampai ke rumah. Disetiap perjalanan kepalaku terus memikirkan tentang sosok laki-laki
yang bernama Lam ini. Entah mengapa sosok itu muncul lagi muncul lagi
dikepalaku. Sampai akhirnya akupun sampai tujuanku yaitu rumahku. Mobil ku
parkirkan di garasiku dan akupun pergi kedapur untu meminum segelas air bening.
Akupun menuangkan
air ke dalam gelas itu, lalu ku minum airnya. Dengan tatapan kosong yang hanya
tertuju pada satu nama Lam, bibir ini minum tetapi terasa tidak minum. Selepas
minum akupun beranjak ke kamar dan persiapan untuk tidur.
Dimalam ini ku
rebahkan badanku di tempat tidurku ini akan tetapi berbeda dengan hari-hari
biasanya, pada mala mini hatiku sangat senang sekali dan kepalaku seakan penuh
dengan kata-kata “Lam” magnet seperti apa yang dimiliki oleh laki-laki itu
sampai tak henti-hentinya kepala ini terus memikirkannya. Ketika pikiran ku
sudah merasakan kelelahan akupun mematikan lampu kamar dan kupejamkan mata ini,
hingga akhirnya akupun terbawa suasana dan tak sadarkan diri bahwa aku sedang
bermain dengan bunga tidur.

Komentar
Posting Komentar