- K III -


BAB 3
Minggu bersama Mang Tono.

Ku buka mataku, hangat mentari pagi yang kusenangi hari ini.
Aku merasakan bibir yang ingin tersenyum ketika membukakan jendela pagi untuk merasakan segarnya udara yang diberikan oleh sang khaliq. Hidung ini senang sekali menghirup udara panjang panjang pagi ini. Ku seduh kopi pagi ini, namun sampai saat ini yang menyeduhnya masih sama seperti dulu yaitu dengan tangan ini. Belum ada campur tangan sang ahli dapur untuk meracik habis kopinya. Hahaa. Kapan datangnya sang ahli itu pikirku sambil mengocek air dalam gelas itu sambil memandang jendela yang ku buka tadi.
Ku beranjak dari dapur untuk pergi ke ruang tengah. Dudukku pagi minggu ini ditemani sang kopi yang tak bertuan. Ku cicipi kopi ini sedikit demi sedikit sambil memandang kebesaran tuhan yang maha esa, dengan kebesarannya dapat memberikan penyinaran yang begitu penting adanya di dunia ini.
Kaos oblong putih dan celana pendek yang kupakai ini menemani setiap tegukan kopi ini dengan santainya. Lengkap sudah santaiku pagi ini rasaku. Aku belum memikirkan apa yang akan ku kerjakan pagi ini yang jelas aku hanya ingin menikmati setiap detiknya udara pagi hari ini.
Bunyi handphone *TokTak. Bunyi pesan whatsappku, ku buka aplikasi itu. Ternyata dari kekey bunga hidupku.
“Pagi sayanggggggg!” bunyi pesan kekey
“Too……” balas pesanku
“yang, minggu ini aku gabisa jalan sama kamu soalnya temen-temenku ngajak main! Gapapaa yahhhh…” goda kekey d pesan
Akupun hanya tersenyum melihat pesan darinya.
“iya gapapa, lagian aku sedang menyukai hari ini, jadi beruntung kamu ga aku apa apain karena ku sedang menyukai hari ini hehee” tumpasku
Kekey pun mengakhiri pesan ini dengan kalimat “okeee, bye sayang” hanya kalimat itu yang ia ucapkan tapi cukup membuat jantungku meningkat adrenalinnya.
            Tak lama kemudian temanku tono orang Bandung asli menemui rumahku di komplek ini. Kuintip lewat jendela ternyata benar itu suaranya.
“Mas lam, masssss lammmmmmmm” teriak mamang tono
“iya benar mang ton” teriak ku sambil ku berlari membuka pintu itu
“ada apa mang ton pagi-pagi kerumahku gini” ungkapku
“eh kumaha ini mah, urang udah kasep kieu, ganteng rapih, ya buat joka-joka atuh mas lam” pungkas mamang tono sambil menunjukan gesture tubuhnya
            Matakupun dengan otomatis melirik dari bawah kaki mang tono sampai atasnya. Mang tono pun melemparkan telapak tangannya kea rah mukaku.
“ehhhhhh ini mah, malah ngeliatin, hayu atuh udah lama gaa kuy” mang tono sambil merengeh menunjukan giginya
            Akupun mengajak mang tono untuk masuk kedalam rumah dulu, sambil menungguku membersihkan badan dan mengganti pakaian.
“ayo mang ton, berangkat” ajakku pada mang tono
“hayu atuhh, derrrr berangkattt” beranjak dari tempat duduknya
Kitapun pergi memakai motor bebek kesayanganku ini, kita berputar putar daerah bandung, makan-makan di tempat yang viewnya masih ke hutan-hutanan. Sampailah kita di sebuah tempat hiburan anak-anak gaul yang biasa mereka PVJ “Paris Van Java” maksudnya. Disini kita berkeliling ria sambil melihat cewek-cewek muda kota kembang ini.
“wihhhhh, ayu ayu yah mas ton, cewek bandung nih” pukauku melihat cewek bandung
“ayu, siapa ayu, kamu kenal mas lam sama itu!” dengan wajah kerung seperti kebingungan
Akupun mengeluarkan wajah kesal ku terhadap kata-kata mang tono. Tetapi akupun hanya terdiam memendam rasa kesal ini, karena ia adalah teman yang selalu menemaniku di bandung ini.
“bukan ayu nama mang ton, cantik-cantik maksudku mang ton”
“ohhhh ngomong dong mas lam dari tadi, kan paham sekarang urang teh” dengan wajah polosnya mamang tono berkata
Setelah kami merocek habis tempat itu, lalu kami pun keluar dari tempat itu menuju taman yang dekat dari tempat itu.
            Langkah demi langkah kami susuri jalanan ini untuk segera menuju ke taman kota itu. Kami berdua duduk di suatu tempat sambil membiarkan bibir satu sama lain ini bersuara tiada habisnya.
            Selang kemudian ku melihat seseorang perempuan yang sedang duduk bersama ibunya, cantiknya paras perempuan itu. Tak dapat ku tundukan pandangan ini, terpukau mata ini memandangnya, cerahnya minggu ini seperti hari selepas hujan datangnya pelangi, begitu indah dipandang. Beberapa menit ku pandang ternyata dia melihat pandanganku, mata kita saling bertemu. Entah apa yang dipikirkanku saat ini, entah apa yang dipikirkan oleh kepala perempuan itu yang pasti mata kita bertemu lumayan lama. Ku melihat dari matanya rasa penasaran terhadap diriku. Ah mungkin itu hanya perasaan ku saja.
“liat apa mas lam” ucap mang tono sambil melihat mataku
“ah ieu mah cewek deui cewek deui” mang tono menggeleng kepala.

Komentar