- K IV -
BAB 4
Bertemu Kedua Kalinya.
“Nak, kapan kamu
bawa seseorang untuk dikenalkan ke ibu” dengan nada rendahnya ibu berkata
Akupun hanya terdiam dan tersenyum
sambil memalingkan badan ke wajah ibu, ku dekap kedua bahu ibuku seraya
berkata..
“iya ibuu, nanti
fina bawa calonnya ke hadapan ibu, fina janji (memberikan salam dua jari kepada
ibunya)
Ibunya pun berkata
kembali.
“Kapan kamu kenalin
dia ke ibu, ibu pengen lihat anak kecil lari-lari di rumah ibu dan bermain
dengan ibu”
Akupun kembali terdiam dengan
pertanyaan ibu. Di dalam tempurung kepalaku, aku teringat sosok laki-laki yang
ku temui di lampu merah malam hari itu. Aku bingung mengapa nama dan wajah itu
terlintas di kepalaku. Aku tidak mengenal dia tetapi rasa ini memaksaku untuk
tahu kehidupan dia.
Dengan nada yang
rendah akupun berkata “iya ibu, doakan saja!” sambil memberikan sedikit
senyuman kepada ibuku.
Banyak hal yang dibicarakan pada
minggu ini bersama ibuku, untaian kata yang kurangkai dan beribu kalimat ibuku
menghiasi disetiap detik hari ini. Mungkin jika aku tulis pada buku, satu buku
saja tidak akan cukup pada lembar buku itu, bakalan banyak pena yang ku
habiskan untuk menulis semua hal yang kami ceritakan pada hari ini.
Di waktu tuanya, ibu tak lelah
memberikan motivasi hidup dan memberikan nasihat untuk bekal tua ku nanti.
Seorang ibu sekaligus seorang kepala keluarga yang begitu semangatnya sampai di
hari tua ini. Mungkin aku yang dapat menemani hari-hari ibu di Bandung ini,
karena kakak dan abangku bekerja di luar negeri. Aku masih beruntung dapat
melihat ibu di hari tua-tua ini.
“ibu dulu sering
main sama bapakmu kesini, banyak sekali hal indah yang kita ukir disini fin”
ibu membuka percakapan
Akupun tersenyum
serta menganggukan kepala dan dengan senang hati mendengarkan ibu bercerita.
“waktu ibu muda
dulu, awal ketemu ibu dan bapak ya disini, di tempat ini. Tapi bapakmu sedang
di kerumuni banyak kaum wanita. Ibu sedikit risih litany, gasuka hati ini liat
bapakmu begitu” sambil membuat gesture yang kesal
“trus trusss gimana
bu?” tambahku dengan penasaran
“iya ibu ga bisa
apa-apa orang ibu kan beda sekolah sama bapakmu, hanya saja sekolah ibu dan
sekolah bapakmu berhadapan” tuntasnya
Akupun hanya
menganggukan kepala seraya mengerti dan berusaha paham denagan berimajinasi
masuk merasakan saat ibu pada posisi itu.
Ibu
tak henti-hentinya kilas balik kehidupannya dengan bapak, begitu indahnya
percintaan mereka, dari yang tidak kenal menjadi kenal. Dan memang jodoh itu
sudah diatur oleh yang maha kuasa, orang yang sering bersama kita juga belum
tentu jadi jodoh kita, siapa tau yang mendampingi hidup kita adalah orang yang
tidak pernah kita tau sebelumnya.
Waktu berselang, aku menemui dua
laki-laki yang menghampiri taman ini. Mereka pun duduk di suatu tempat di taman
ini. Aku melihat dikejauhan seperti tidak asing orangnya. Ah sudahlah mungkin
aku terlalu banyak pikiran sampai semua dianggap aku kenal.
Tidak lama dari itu aku pun tidak
sengaja melirik orang itu, ternyata… dia sedang melihat kearahku, mata kita
dipertemukan oleh taman ini. Setelah aku melihat ternyata sosok laki-laki yang
aku temui dengan seorang nenek tua itu hadir kembali di hadapanku.
Apa ini kebetulan? Atau emang sudah
ditentukan oleh yang maha kuasa? Yang jelas aku bahagia dapat melihatnya
kembali. Rasanya aku ingin berkenalan dengannya. Tapi hati dan raga ini tak
kuat menahan rasa malu ini. Akupun hanya sedikit demi sedikit mencuri pandangan
padanya.
Jika ini sudah tersimpan jalannya di
lauhul mahfudz, indahnya skenario yang di buat oleh sang khaliq ini. Jika aku
bisa meminta, masukanlah scene dimana aku dan dia berkenalan. Wajah yang
rupawan itu menyejukan hati yang melihatnya, di bawah pohon rindang ini
menambah kesejukan di hari yang cerah ini.
Kedua laki-laki itupun beranjak
pergi dari teman duduknya. Aku tidak tau mereka kemana. Tetapi rasanya aku
ingin mengikuti.
Akupun mengajak ibuku pergi dari
taman itu.
Ku ikuti kendaraan bermotor yang
dipakai oleh laki-laki itu, ibuku terlihat penasaran dengan apa yang kulihat.
Tapi ibu mencoba menyembunyikan hal itu dan enggan untuk bertanya kepadaku.
Akupun berkata
kepada ibuku “bu, fina pengen ngajak ibu jalan-jalan aja ya bu, gapapaa kan?”
mukaku arahkan pada ibu
Ibuku hanya membalasnya dengan
senyuman.
Tibalah disebuah persimpangan jalan
disebuah komplek yang masih sejuk dengan pohon-pohon, rumah-rumah klasik di
sepanjang jalan ini. Akupun berusaha meyakinkan ibu bahwa aku ingin melihat
rumah-rumah di komplek ini, temanku bilang disini rumahnya nyaman. Bohongku
pada ibu.
Ibu sudah mengetahui bahwa aku
mengikuti orang yang ada di taman itu, akupun mengetahui rumahnya, dan dari kedekatan
ku lihat, benar. Dia benar-benar rupawan tidak hanya di kejauhan, bahkan di
kedekatanpun seperti itu. Akupun melanjutkan perjalanan dan bergegas menuju
rumah bersama ibuku.
Lama diperjalanan….
Ibu berkata
kepadaku.
“ibu tau apa yang di
pikiranmu”
Sontak ibu membuatku
kaget dan salah tingkah
“ah ibu, apa sih ibu
gengerti fina!” aku mencoba untuk tidak membahas hal ini
Tetapi ibu memulai
lagi percakapan “jika kamu suka, temui dia, ajak dia ke rumah ibu” desak ibu
Akupun hanya
terdiam, bungkam seribu bahasa, tidak dapat berkata-kata, tapi apa boleh buat
aku harus menjawab pertanyaan ibu, agar ibu tidak memikirkan hal itu.
Setidaknya untuk saat ini jangan dulu.
“engga bu, aku gatau
dia siapa” ngelesku
“ibu tau, dulu juga
ibu seperti itu dengan bapak, kita ga saling kenal!” ibu memotivasi ku untuk
semangat bahwa kita dapat berkenalan
*Stuck. Mati dah gua
(hatiku bicara).

Komentar
Posting Komentar