- K -
BAB 1
Malam di Kursi Kantor.
Secangkir kopi yang
tersisa hampasnya, dan pena yang kumainkan dengan jari jemari ku, otakku terus
berputar tak hentinya hingga larutnya malam ini menemani kantung mataku.
Celotehan otak ini aku tuangkan pada tugas kantor yang tak kunjung selesai.
Beberapa kali kepala ini menjatuhkannya, ah ku kira hanya menggerakan saja,
tetapi aku sadar kepalaku ini butuh istirahat dulu.
Badan, ku senderkan
ke kursi dengan kaki yang ku tumpang silangkan di bawah meja. Hela nafas
panjang yang ku buat membuatku sedikit rileks hingga tidak sadar akupun
tertidur di kursi kantorku.
Handphone ku
berbunyi, akupun terbangun di tidurku ini. Ku pakaikan kacamata yang ku simpan
di meja lalu ku lihat hp ini, ah ternyata hanya notif dari grup saja. Ku lirik
jam yang ada di kantor ku ternyata sudah lumayan larut malam. Akupun break
semua tugas kantor dan bergegas pulang.
Ku keluar dari ruang
kantor, ternyata hanya ruanganku saja yang nyala lampunya. Padamnya lampu
diluar sedikit menenangkanku, karena kesunyian ini aku sedikit menyukainya. Ku
tutup pintu kantor ini dan ku kunci. Pamitku pada satpam.
“Malem pak, semua
udah ku kunci pak, kuncinya seperti biasa disimpan disana pak”. Ucapku sambil
ku arahkan jari ku menunjuk ke belakang punggungku.
“Siap mas Lam,
makasi yo mas dah tak kunci, hati-hati pulangnya mas, kerja ko sampai jam
sebelas gini sih mas” lirih pak ano satpam
“ah pak deadline
kantor nih pak “ (hehee) ketawa ku sambil ku kerutkan kening ku ini
“Yaudah pak, duluan
ya pak”
“walahhhh mas mas,
siap mas siap” pak ano sambil menggerakan tangannya memberikan hormat
Ku kendarai motor
yang ada di tempat parkir kantor ini, ku pasang helm dan jaket yang ada di tas
ku ini. Dinginnya malam ini terasa hangat karena begitu ramai kota metropolitan
ini. Sehingga hangatnya asap kendaraan masuk tanpa izin pada tubuh ini.
Di
sela sela ramainya kota metropolitan ini, sebut saja kota ini kota Bandung,
tetapi masih banyak orang yang mungkin mereka ingin merasakan hidup di dalam
atap yang utuh, lantai yang bersih, kasur yang empuk dan merasakan hangatnya
selimut.
Tapi, ya beginilah
roda kehidupan dunia ini, kadang di atas kadang di bawah. Semua sudah di atur
oleh yang maha kuasa. Kita tinggal melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita
sebagai mahkluk tuhan yang maha esa, biar semua serahkan padanya semata.
Ku pelankan jalannya
motor ini, rasa iba menghampiri ku ketika ku lihat di sekeliling jalan yang
sepi ini terdapat banyak sekali orang-orang yang tidur tak beralaskan apa-apa,
orang yang mungkin berusaha untuk anaknya makan esok, orang yang bingung mau di
bawa kemana kehidupannya.
Ku susuri jalanan
ini dengan lembutnya suara motor ini. Dengan pulasnya anak-anak itu tidur tanpa
memikirkan kejadian yang akan menimpanya di luar sana. Tidak ada satupun yang
menjadi penghalang untuk mengganggu mereka. Ya allah lindungilah anak anak ini.
Sementara ibu dan bapak mereka ada yang tidur bersama mereka ada pula yang
keluar mencari makan untuk diberikan pada anaknya pagi hari.
Lampu merah
memberhentikan langkah motor ku ini. Ku lirik kiri ada seorang nenek paruh baya
yang memasukan tangannya kedalam tempat sampah di dekat trotoar ini. Entah apa
yang di lakukannya, aku berusaha untuk tidak meramal, karena itu tidak boleh di
agamaku. Aku pun diam dan hanya memperhatikan nenek itu, lambat laun nenek itu
membawa sesuatu dari tempat sampah ini. Kudapati ia membawa bungkusan nasi. Ia
buka bungkusan itu, lalu ia duduk dekat tempat sampah itu. Pedih rasanya hati
ini seperti disayat ketika melihat nenek itu membawa dan membuka bungkusan itu,
aku pun teringat ibuku di kampung sana.
Lampu pun bergerak
hijau, akupun melajukan kendaraan. Di sisa waktu yang akan berganti hari ini
aku mencari rumah makan terdekat. Tak jauh dari tempat itu ada rumah makan
akupun membelikan makanan untuk nenek itu.
“Bu, masih ada
makanannya kan bu?” tanyaku sedikit tergesa gesa
“ada nak, mau beli
berapa?” Tanya ibu rumah makan itu
“satu aja bu, campur
ya bu, kumplit aja pokonya bu!” tuntas ku akhiri percakapan ini
Ibu rumah makan pun
membungkuskan makanan itu, lalu ku bayar makanan itu. Selepas semua selesai
bertransaksi, akupun bingung. Karena jalan ini hanya satu arah, jika balik
itupun akan melanggar. Jika muter itu kan menghabiskan waktu. Akupun menitipkan
motor ini ke ibu rumah makan.
Kaki ku mengajakku
berkeringat malam ini, lari ku di dipinggir jalan ini sambil memikirkan nenek
itu semoga saja dia belum beranjak dari tempat tadi. Sampaiku di tempat itu,
aku sedikit lega karena nenek itu masih duduk di tempat ini sambil memakan
sedikit demi sedikit makanan itu.
Akupun menghampiri
nenek itu.
Mata ini menolak
untukku berkata-kata, tak kuat melihat nenek paruh baya ini berdiam diri diluar
dengan jahatnya udara malam ini. Entah terbuat dari apa badannya, ia hanya
menggunakan kain tipis yang melekat pada tubuhnya. Akupun memulai perakapan
ini.
“malem nek, nek saya
punya makanan, nenek mau ga nerima makanan ini nek?” godaku ke sang nenek agar
nenek mau nerima makananku
Nenek itupun
terkaget dengan kedatanganku di larut malam ini.
“tenang nek, saya
bukan orang jahat, kenalin nek saya Lam Abdillah Basalamah (sambil mengulurkan
tangan) kebetulan saya lewat sini dan kebetulan saya punya makanan, tapi saya
udah kenyang nek” bohongku pada sang nenek padahal aku pun sama lapar
Nenek itupun hanya
mengangguk, entah malu atau seperti apa, aku tidak bisa menggambarkannya, yang
jelas aku sangat senang nenek itu menerima makanan yang kuberikan padanya. Ku
letakan makanan itu di pinggirnya. Aku pun beranjak pergi dari tempat ini.
Sedikit demi sedikit kulangkahkan kaki ini meninggalkan tempat nenek itu,
lumayan agak jauh ku berjalan, kepala memaksaku menoleh kebelakanag kea rah
nenek itu, ku lihat nenek itupun memakan makanan yang ku berikan. Hati ini
semakin sedih karena terbayang jika posisi ibuku di posisi itu.
Kulanjutkan
perjalanan ku sampai rumah makan itu, dan kembali melanjutkan perjalanan pulang
ku. Moralitas orang yang sudah kaya sudah semakin sedikit yang simpati pada
orang-orang yang membutuhkan. Mereka hanya memiliki mata sebelah, mereka hanya
memikirkan popularitas dan kekayaan sampai pada akhirnya seleksi alam, kekuatan
politik yang rakuslah yang berkuasa sehingga kesenjangan sosial lah yang
menjadi dampaknya.
Tetapi mungkin ini
hanyalah celotehanku di sisa malam ini saja, mungkin otakku saja yang
berpikiran tidak benar. Dan semoga saja memang benar otakku yang salah.

Komentar
Posting Komentar